Yamaha adalah salah satu dari perusahaan otomotif yang begitu sukses di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam artikel tersebut dari perencanaan yang dibuat oleh Yamaha dalam membuat produk motor skutik pertama yang ada di Indonesia. Yamaha meluncurkan produk sepeda motor skutik pertama yaitu Mio meskipun belum ada perusahaan otomotif di Indonesia yang meluncurkan produk motor sejenis tersebut. Yamaha berani untuk menjadi pioner dalam pasar skutik, meskipun hal itu merupakan produk yang masih asing di kalangan konsumen motor di Indonesia, hal ini menunjukkan penetapan Yamaha dalam pemasaran produknya. Dalam sistem pengorganisasian, dalam artikel tersebut dapat dilhat dari kecerdikan Yamaha dalam melihat peluang untuk memasarkan produk baru yang belum pernah ada sebelumnya. Yamaha dapat memanfaatkan hal tersebut dengan meluncurkan motor skutik tersebut. Dan hasilnya pun sangat memuaskan, produk tersebut sukses dipasaran dunia otomotif, Mio pun meningkatkan brand Yamaha dikalangan konsumen Indonesia. Dan secara perlahan, Yamaha bisa menggeser kejayaan Honda dalam pasar sepeda motor di Indonesia.
Total Tayangan Halaman
Minggu, 09 November 2014
Senin, 13 Oktober 2014
Psikologi Manajemen
Upaya
Agar Perusaahaan Sukses dan Terkenal
Dalam tulisan
saya kali ini, saya akan menuliskan mengenai upaya-upaya apa saja yang akan
saya lakukan jika saya memiliki sebuah perusahaan agar perusahaan tersebut sukses
dan terkenal.
Sebelumnya,
jika kita ingin membuat suatu usaha, kita harus memfokuskan pandangan mengenai
usaha apa yang akan kita dirikan. Kita harus melakukan survei lapangan terlebih
dahulu mengenai kebutuhan apa yang dibutuhkan masyarakat sekarang ini. Semakin sempit
fokus kita terhadap suatu peluang, semakin besar kemungkinan bagi kita untuk
memiliki perusahaan yang sukses.
Jika saya
memiliki perusahaan, jenis perusahaan yang akan saya buat adalah usaha yang
bergerak dibidang makanan khususnya roti dan kue. Saya memilih jenis usaha ini,
di dasari oleh hobi saya yakni memasak, sehingga saya pun ingin hobi saya ini
profit bagi saya. Nah, untuk membuat perusahaan saya sukses, diperlukan manejemen
perusahaan yang baik.
Manajemen
perusahaan itu berfungsi dalam meramalkan, merencanakan, mengorganisasi,
mengarahkan, memotivasi dan mengawasi jalannya produksi dalam suatu perusahaan.
Bagaimana cara menerapkan manajemen yang baik dalam perusahaan?
1) Diperlukan
sikap kepemimpinan. Kepemimpinan adalah suatu sikap dimana seseorang dapat mempengaruhi
sikap orang lain sesuai yang dikehendaki olehnya. Menjadi pemimpin yang baik
harus mampu bertanggung jawab dan memastikan bahwa karyawan-karyawannya
melakukan tugasnya secara efektif serta menjadi teladan bagi
karyawan-karyawannya. Selain itu, sebagai seorang pemimpin, ia harus memikirkan
peluang dan kemungkinan yang dapat dilakukan agar perusahaan yang ia pimpin
dapat berkembang dan sukses.
2) Manajemen
Karyawan. Dilakukan dengan memastikan bahwa karyawan yang bekerja termotivasi
dan selalu memberikan yang terbaik untuk pekerjaan mereka. Selain itu, seorang
pemimpin perusahaan juga harus memperlakukan karyawannya dengan baik dengan
menghormati mereka seperti manusia pada umumnya.
3) Memberikan
Motivasi bagi Karyawan. Motivasi sangat diperlukan bagi karyawan untuk
meningkatkan kembali semangat bekerja yang mungkin memudar dikarenakan
kejenuhan ketika bekerja. Selain itu, motivasi juga diberikan agar ia semakin
giat dalam menjalankan tugasnya dengan baik. Jika karyawan semakin baik dalam
bekerja, semakin banyak juga keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Sedangkan,
untuk membuat perusahaan saya terkenal, saya akan mengenalkan produk saya
terlebih dahulu kepada rekan-rekan terdekat saya. Jika rekan-rekan saya
menyukai produk yang saya buat, barulah saya memasarkannya lebih luas kepada masyarakat.
Saya dapat memanfaatkan penggunaan teknologi internet, khususnya media sosial. Mengapa
media sosial? Maraknya penjualan melalui media sosial sekarang ini, membuat
saya untuk memilih memasarkan produk yang saya produksi melalui media sosial. Karena
selain lebih cepat, media sosial lebih mudah dalam pemasaran suatu produk
sehingga tidak membutuhkan biaya tambahan dalam produksinya. Media sosial yang
dapat digunakan dalam pemasaran produk seperti Facebook, Twitter, Instagram,
Path, Blogger, dll.
Jumat, 23 Mei 2014
Kesehatan Mental
Konsep Penyesuaian
Diri yang Sehat
A. Pengertian
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan
karena:
(1) Penyesuaian diri
mengandung banyak arti
(2) Kriteria untuk
menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas
(3) Penyesuaian diri
(adjustment) dan lawannya
ketidakmampuan menyesuaiakan diri (malajustment)
memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan perbedaan keduanya.
Dengan demikian, apabila kita mau
menghilangkan kekacauan atau salah pengertian mengenai penyesuaian diri maka
kita harus menjelaskan konsep-konsep dasarnya. Karena kalau tidak maka kita
tidak dapat melangkah lebih jauh untuk menentukan kriteria, syarat, dan
prinsip-prinsipnya. Demikian juga halnya kalau kita mau memahami secara jelas
tentang istilah-istilah yang berhubungan, seperti normalitas, abnormalitas dan
ketidakmampuan menyesuaikan diri.
Untuk menjelaskan hal ini, kita dapat
mengemukakan contoh berikut. Ada dua orang pemuda yan bernama Ahmad dan Udin,
yang usianya sama dan berasal dari latar belakang sosio-ekonomis yang sama. Ahmad
seorang pemuda yang bahagia, periang, memliki prestasi sekolah yang bagus,
disukai oleh kawan-kawannya, sangat tertarik dengan olahraga dan
kegemaran-kegemaran lain, sangat dibanggakan oleh keluarganya, dan ia telah
memutuskan apa yang diinginkannya setelah tamat dari Sekolah Menengah dan masuk
ke Perguruan Tinggi. Udin justru sebaliknya. Ia seorang yang murung, benci
terhadap orang tuanya, iri terhadap saudara-saudaranya yang lain dalam
keluarga, tidak tertarik kepada olah raga atau kegiatan-kegiatan sosial, dan
hampir selalu tidak memiliki kawan. Ia sudah dua kali lari dari rumahnya dan
prestasinya di sekolah sangat jelek. Udin mengalami gangguan emosional, orang
yang sama sekali tidak mampu menyesuaikan diri dengan hampir setiap segi
kehidupan. Ahmad dapat digambarkan sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik, dan ia dapat menginjak masa dewasa tanpa mengalami konflik,
frustasi atau ketidakbahagiaan.
Apakah perbedaan di antara kedua anak muda
ini? Dan apa sebabnya kita berkata bahwa Ahmad adalah orang yang dapat
menyesuaikan diri dengan baik sedangkan Udin orang yang tidak mampu
menyesuaikan diri? Apakah perbedaan itu terletak pada hubungan mereka dengan
lingkungannya? Apakah itu hanya merupakan perasaan-perasaan pribadi mereka? Apakah
itu hanya perbedaan jarak atau dalamnya antara minat dan tujuan mereka? Kita dapat
berkata secara sangat sederhana bahwa penyesuaian diri didefinisikan dengan
sejauh mana orang bergaul dengan baik dengan dirinya sendiri dan dengan orang
lain. Tetapi, ada kesulitan dengan konsep penyesuaian diri yang sangat
sederhana ini. Cukup aneh, cara Udin yang kurang baik dalam mengadakan respons
terhadap keadaan-keadaan dan orang-orang harus dianggap sebagai penyesuaian
diri. Kebencian, perasaan iri, kemurungan, dan sebagainya adalah cara Udin
menangani situasi-situasi yang berbeda. Meskipun cara-cara ini tidak diinginkan
sebagai cara-cara bereaksi terhadap situasi-situasi, namun kualitasnya tetap
dianggap sebagai kualitas penyesuaian diri.
Ini adalah hal yang sangat penting dalam
mempelajari penyesuaian diri manusia. Bukan macamnya tigkah laku yang
menentukan apakah orang dapat menangani proses penyesuaian diri, tetapi cara bagaimana
tingkah laku itu digunakan. Apakah tuntutan-tuntutan dari dalam atau
stres-stres dari lingkungan dihadapi dengan berdoa, kenakalan/kejahatan,
simtom-simtom neurotik dan psikotik, tertawa, gembira, atau permusuhan, namun
konsep penyesuaian diri dapat digunakan sejauh respons tersebut berfungsi untuk
mereduksikan atau meringankan tuntutan-tuntutan yang dikenakan individu. Apabila
respons-respons tersebut tidak efisien, merugikan kesejahteraan pribadi, atau
patologik, maka respons-respons itu disebut sebagai respons-respons yang tidak
mampu menyesuaikan diri (maladjustive).
B. Definisi Penyesuaian
Diri
Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian
diri memiliki banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam
menangani frustasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan
pembentukan simtom-simtom. Itu berarti belajar bagaimana bergaul dengan baik
dengan orang lain dan bagaimana menghadapi tuntutan-tututan pekerjaan. Tyson menyebut
hal-hal seperti kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan
yang seimbang, kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi
terhadap frustasi, humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain
(Tyson, 1951). Kita akan menemukan kualitas-kualitas lain ketika kita
membicarakan kriteria mengenai penyesuaian diri dan kesehatan mental. Jelas,
banyaknya sifat dari proses penyesuaian diri ini menimbulkan kesulitan untuk
merumuskan suatu definisi yang singkat. Kita juga menghadapi kesulitan karena
penyesuaian diri itu sendiri tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Hanya dapat dikatakan
bahwa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus organisme dalam
bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar. Untuk
beberapa orang mungkin reaksi ini biasa efisien, sehat, atau memuaskan,
sementara untuk orang lain reaksi ini melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan
patologik.
Karena penyesuaian diri itu sendiri tidak
bisa dikatakan baik atau buruk maka kita tidak dapat mendefinisikannya dengan
sangat sederhana, yaitu suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan
tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan,
tegangan-tegangan, frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta
menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutsn-tuntutan yang
dikenakan kepadanya oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan
respons cocok dengan konsep penyesuaian diri.
C. Konsep Penyesuaian
Diri yang Baik
Terhadap definisi umum yang dikemukakan di
atas, kita akan bertanya, “Seperti apakah orang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik itu?” Dengan kata lain, “Apakah itu penyesuaian diri yang baik?”
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki
respons-respons yang muatannya efisien, memuaskan, dan sehat. Sebaliknya, orang
yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani
tugas-tugas secara lengkap. Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk
kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang
lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan ciri yang khas dalam
penyesuaian diri yang baik.
Singkatnya, meskipun memiliki
kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan
baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat
memecahkan konflik-konflik, frustasi-frustasi, dan masalah-masalah tanpa
menggunakan tingkah laku simtomatik. Karena itu, ia relatif bebas dari
simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan
psikofisiologis (psikomatik). Ia menciptakan dunia hubungan antarpribadi dan
kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan
kepribadian.
D. Penyesuaian
Diri sebagai Adaptasi
Erich Fromm dalam bukunya, Escape from
Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan berguna
yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang dinamakannya
adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Ia menggunakan adaptasi statis untuk
menyebutkan perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya orang
berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik adalah
situasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan, misalnya seorang
anak laki-laki tunduk kepada perintah-perintah ayah yang keras dan mengancam.
Fromm menafsirkan neurosis sebagai respon dinamik, yaitu adaptasi yang sama
dengan penyesuaian diri. Demikian juga halnya penyusuaian diri sebagai sikap
mempertahankan diri atau kelangsungan hidup dipakai untuk kesejahteraan fisik
tetapi tidak dapat dipakai untuk penyesuaian diri dalam pengertian psikologis.
Sumber:
Semiun, Yustinus OFM. (2006). Kesehatan Mental 1 Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian
Diri dan Kesehatan Mental serta Teori-Teori yang Terkait. Yogyakarta: Kanisius
Senin, 21 April 2014
Kesehatan Mental (Tugas 2)
Stres yang terus menerus bisa juga timbul karena polusi udara dan kebisingan, kepadatan dan kemacetan lalu lintas, tindak kejahatan, beban kerja yang berlebihan. Stres berat juga bisa dialami seseorang karena kehilangan orang yang dicintai dalam kecelakaan atau bencana alam.
- Pengertian Stres
J. P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai satu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Hal senada diungkapkan dalam Atkinson (1983), stres terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebabkan stres dinamakan stresor. Sementara reaksi peristiwa tersebut dinamakan respon stres, atau secara singkat disebut stres.
Menurut Lazzarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005: 481) “Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
- Karakteristik Peristiwa Stres
Sumber stres dapat berbeda-beda pada masing-masing individu, dan biasanya tampil dalam bentuk motif atau keinginan yang bertentangan. Berikut ini dikemukakan beberapa peristiwa yang merupakan sumber stres:
1) Peristiwa Traumatik
Peristiwa traumatis adalah situasi bahaya di luar rentang pengalaman manusia yang lazim. Contoh: bencana alam, kecelakaan yang mengerikan, penyerangan fisik.
2) Peristiwa yang tidak dapat dikendalikan
Peristiwa besar yang tidak dapat dikendalikan misalnya, kehilangan karena meninggalnya orang yang dicintai atau terserang penyakit serius. Sedang peristiwa ringan yang tidak dapat dikendalikan misalnya, tidak mendapatkan maaf dari teman, terlambat dalam suatu acara karena kemacetan lalu lintas, atau keberangkatan tertunda karena tiket pesawat habis. Salah satu alasan mengapa peristiwa yang tidak dapat dikendalikan itu menyebabkan stres adalah karena orang tidak mampu mengontrol terjadinya peristiwa itu.
- Coping Stress
Emosi dan rangsangan fisiologis yang ditimbulkan oleh situasi stres, sangat tidak nyaman. Ketidak-nyamanan tersebut memotivasi individu untuk melakukan sesuatu guna menghilangkannya. Proses yang ditempuh seseorang untuk menghadapai tuntutan yang menimbulkan stres dinamakan coping (kemampuan mengatasi masalah). Coping memiliki dua bentuk utama, yaitu:
1) Strategi Terfokus Masalah
Strategi Terfokus Masalah atau disebut juga Problem Focus Coping, yaitu upaya seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, sambil mencoba menemukan cara untuk mengubahnya atau menghindarinya.
Strategi yang dapat ditempuh untuk memecahkan
masalah antara lain menentukan masalahnya, mencari pemecahan alternatif,
menimbang-nimbang alternatif tersebut, dan memilih salah satunya dan mengimplementasikannya.
2) Strategi Terfokus Emosi
Strategi Terfokus Emosi atau disebut juga Emotional Focus Coping, yaitu upaya untuk mencegah emosi negatif menguasai diri seseorang atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan. Sebagian peneliti telah membagi cara-cara mengatasi emosi negatif menjadi strategi perilaku dan strategi kognitif (Moss, 1998 dalam Atkinson 1993:379)
a. Strategi Perilaku, misalnya latihan fisik untuk
beralih dari masalah. Seperti mencari kesibukan dengan berolahraga, berkumpul
bersama teman-teman.
b. Strategi Kognitif, dilakukan antara lain dengan
menyingkirkan untuk sementara pikiran tentang masalah tersebut, misalnya
memutuskan untuk tidak mengkhawatirkan masalah tersebut. Strategi kognitif
sering kali membutuhkan penilaian ulang terhadap situasi.
Penelitian-penelitian lain mengklasifikasikan strategi-terfokus-emosi secara berbeda, menjadi:
a. Strategi perenungan (rumanative strategies)
Strategi ini dilakukan antara lain dengan cara mengisolasi diri untuk merenungkan betapa buruknya perasaan kita, menguatirkan konsekuensi peristiwa stres, atau keadaan emosional kita, atau membicarakan berulang kali betapa buruknya segala sesuatu, tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.
b. Strategi pengalihan (distraction strategies)
Strategi ini ditempuh antara lain dengan melibatkan diri dalam aktivitas yang menyenangkan, dan mengingatkan perasaan kendali kita, misalnya melakukan kegiatan berolah raga yang menyenangkan, bermain dengan anak-anak, dll. Tujuan dari strategi pengalihan adalah menjauhkan diri dari pikiran negatif dan mendapatkan kembali rasa mampu menguasai masalah.
c. Strategi penghindaran negatif (negative avoidant
strategies)
Strategi ini adalah aktivitas yang dapat mengalihkan kita dari mood, tetapi berbeda dari strategi pengalihan. Bedanya adalah bahwa strategi pengalihan negatif merupakan aktivitas beresiko yang mungkin malah memperberat mood.
- Kepribadian Sehat, menurut:
1)
Carl Rogers
Teori Carl Rogers berkembang dari pendekatannya terhadap psikoterapi dan perubahan perilaku yang berpusat pada klien. Ia yakin bahwa kekuatan dasar yang memotivasi manusia adalah kecenderungan untuk beraktualisasi suatu kecenderungan ke arah pemenuhan atau aktualisasi semua potensi atau kapasitas organisme. Rogers tidak menolak adanya kebutuhan lain misalnya kebutuhan biologis, tetapi semua kebutuhan itu terarah pada motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya. Keyakinan ini mendorong dia untuk menjadikan aktualisasi diri sebagai dasar terapi yang dilakukannya yakni terapi yang terpusat pada klien (client-centered). Metode terapi ini didasarkan pada pendapat bahwa semua individu memiliki motivasi dan kemampuan untuk berubah.
Diri atau konsep diri penting dalam teori ini. Diri itu mencakuo semua ide, persepsi dan nilai-nilai yang mengarakterisasi “saya” atau “aku” dan ini mencakup “siapa saya” dan “apa yang dapat saya lakukan”. Selanjutnya diri dan konsep diri memengaruhi persepsi seseorang tentang dunia dan perilakunya. Diri yang lain dalam teori Rogers adalah diri ideal, yaitu konsep diri seperti yang diinginkan oleh seorang individu.
2) Gordon
W. Allport
Allport mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dari sistem psikofisik seseorang yang menentukan perilaku dan pikiran dari orang tersebut. Orang yang sehat secara psikologis kebanyakan termotivasi oleh proses yang disadari; mempunyai perluasan atas rasa tentang diri; berhubungan dengan penuh kasih sayang dengan orang lain; menerima diri mereka apa adanya; mempunyai persepsi realistis mengenai dunia; serta memiliki wawasan, humor, dan filosofi kehidupan yang menyeluruh. Allport mendukung suatu posisi yang proaktif, yaitu penekanan pandangan bahwa manusia mempunyai kemampuan yang besar atas kontrol yang sadar mengenai hidup mereka.
Dalam struktur kepribadian, Allport membedakan antara sifat umum dan sifat individual. Sifat umum adalah karakteristik yang umumnya dimiliki oleh banyak orang, sifat ini dapat bermanfaat untuk membandingkan satu orang dengan yang lainnya. Sifat individual (disposisi personal) adalah sesuatu yang khusus dimiliki seseorang dan mempunyai kapasitas untuk mengartikan stimulus yang berbeda, yang setara secara fungsional, serta untuk memulai dan mengarahkan perilaku. Tiga tahapan disposisi personal adalah:
a. Disposisi pokok, yang hanya dimiliki oleh beberapa orang dan yang snagat jelas,
sehingga tidak dapat disembunyikan
b. Disposisi sentral, 5-10 karakteristik yang membuat seseorang menjadi khas (unik)
c. Disposisi sekunder, yang lebih tidak dapat dibedakan, namun terdapat
dalam jumlah yang lebih banyak dibanding disposisi sentral.
Sumber:
Feist, J & Feist, G. (2013). Teori Kepribadian (Theoriesof Personality) Edisi 7.
Jakarta: Salemba Humanika
Basuki, Heru. A. M. (2008). Psikologi
Umum. Jakarta: Gunadarma
Senin, 24 Maret 2014
Kesehatan Mental
Konsep Kesehatan
Menurut Undang-Undang RI. No. 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup secara produktif secara sosial dan ekonomi.
Menurut WHO, kesehatan adalah kondisi dinamis meliputi
kesehatan jasmani, rohani, sosial, dan tidak hanya terbebas dari penyakit,
cacat, dan kelemahan. Dikatakan sehat secara fisik adalah orang tersebut tidak
memiliki gangguan apapun secara klinis. Fungsi organ tubuhnya berfungsi secara
baik, dan dia memang tidak sakit. Sehat secara mental/psikis adalah sehatnya
pikiran, emosional, maupun spiritual dari seseorang. Ada suatu kasus seseorang
yang memeriksakan kondisi badannya serba tidak enak, akan tetapi secara
klinis/hasil pemeriksaan dokter menunjukan bahwa orang tersebut tidak sakit,
hal ini bisa disebabkan karena orang tersebut mengalami gangguan secara
mental/psikis yang mempengaruhi keadaan fisiknya. Contoh orang yang sehat
secara mental adalah tidak autis, tidak stress, tidak mengalami gangguan jiwa
akut, tidak mempunyai masalah yang berhubungan dengan kejiwaan, misalnya
kleptomania, psikopat, dan lain-lain. Penderita penyakit hati juga merupakan
contoh dari orang yang tidak sehat mentalnya, karena tidak ada seorang dokter
bedah jantung sekalipun yang bisa menghilangkan poenyakkit ini dengan peralatan
bedahnya.
Sedangkan dikatakan sehat secara sosial adalah
kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan di mana ia tinggal.
Contoh orang yang tidak sehat sosial diantaranya adalah seorang Wanita Tuna
Susila (WTS). Kemudaian orang dengan katagori sehat secara ekonomi adalah orang
yang produktif, produktifitasnya mengantarkan ia untuk bekerja dan dengan
bekerja ia akan dapat menunjang kehidupan keluarganya.
Sejarah
Perkembangan Kesehatan
Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai
kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru
bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentangmens sana in confore sano merupakan
satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan
betapa pentingnya aspek kesehatan mental. Yang tercatat dalam sejarah
ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan
mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada
upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Untuk lebih lanjutnya,
berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan
mental.
Sejarah
Perkembangan Kesehatan Mental
Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan
manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah
kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk
pengetahuan yang sederhana. Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa
penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa.
Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara
di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat
dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan
perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini.
Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu
contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang
terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal
dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa
adanya teori-teori yang dikemukakan.
Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak
hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental
dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
alam di Eropa. Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha
kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para
penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam
memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara
Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat
disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.
Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada
ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers
pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa.
Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan
atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan
pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang
menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi
perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah
sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa
sembuh.
Di dalam bukunya A Mind That Found Itself,
Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam
dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan
program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara
penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit
mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh
keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:
1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan
para penderita mental.
2. Kampanye
memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan
lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan
mental.
3. Memperbanyak
riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan
mengembangkan terapi penyembuhannya.
4. Memperbesar
usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan
gangguan-gangguan emosi.
William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar,
sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang
menyarankan agar Mental Hygiene dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan
yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasiConnectitude Society
for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee
for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir
hayatnya.
Teori
Kepribadian Sehat, menurut:
a) Psikoanalisa
Teori
kepribadian dengan pendekatan psikodinamika sangat dipengaruhi oleh Sigmund
Freud (1856-1939), Bapak Psikoanalisa yang sangat terkenal. Aliran ini melihat
dari sisi negatif individu, masa lalu, analisis mimpi (jalan istimewa menuju
ketidaksadaran), dan juga alam bawah sadar, yang tersusun dari 3 sistem pokok
yaitu: id, ego, dan superego.
- Id: Merupakan sistem kepribadian yang asli dan merupakan sumber energi utama bagi hidup manusia. Id merupakan rahim tempat ego dan superego berkembang. Freud menyebut id “kenyataan psikis yang sebenarnya”, karena id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas. Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).
- Ego: Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan. Misalnya orang yang lapar harus mencari, menemukan, dan memakan makanan sampai tegangan karena merasa lapar dapat dihilangkan.
- Superego: Sistem kepribadian ketiga dan yang terakhir dikembangkan adalah superego. Superego adalah gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adapt istiadat, agama, orangtua, guru, dan orang lain kepada anak. Karena itu pada dasrnya superego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.
Freud
juga membagi aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan
sejauh mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu: Tingkat
sadar atau kesadaran (conscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dapat
disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
1. Tingkat
prasadar (preconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan
gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu
memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah
dipelajari, dan lain-lain.
2. Tingkat
tidak disadari (unconscious level)
Pada tingkat ini aktivitas mental dan
gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul
misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan,
harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai
dengan norma masyarakat, dan lain-lain.
3. Tingkat
tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa. Dikatakan Freud
pada tahun 1942: “tujuan utama psikoanalisa sebenarnya tidak lebih dari
mencapai dan dapat mengungkap kehidupan mental yang tidak disadari”. Teori
Freud sendiri kemudian banyak mengalami perkembangan baik oleh dirinya sendiri
maupun oleh para pengikutnya seperti: Alfred Adler, Karen Horney, Erich Fromm,
dan lain-lain. Perubahan penting yang dilakukannya sendiri adalah konsep
libido. Awalnya libido dianggap berasal dari dorongan seksual semata, tetapi
akhirnya Freud berpendapat bahwa libido merupakn dorongan kehidupan yang jauh
lebih luas daripada dorongan seksual semata. Karen Horney dan Erich Fromm
menekankan pentingnya pengaruh lingkungan social terhadap perkembangan
kepribadian individu.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa menurut aliran psikoanalisa manusia bersifat terbatas,
yaitu mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Manusia dilihat dari
sisi sakit, yaitu bahwa kodrat manusia bersifat negatif (neurotics dan
psikotis), dan juga kodrat manusia digambarkan pesimistis, yaitu manusia
adalah korban dari tekanan-tekanan biologis dan juga konflik-konflik pada masa
kanak-kanak.
b) Behavioristik
Behaviorisme
merupakan sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh J.B.Watson. Sama
halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang
revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar sejarah yang cukup
dalam. Selain Watson ada beberapa orang yang dipandang sebagai tokoh
behaviorsime, diantaranya adalah Ivan Pavlov, E.L. Thorndika, B.F. Skinner,
dll. Namun demikian bila orang berbicara kepribadian atas dasar orientasi
behevioristik maka nama yang senantiasa disebut adalah Skinner mengingat dia adalah
tokoh behaviorisme yang paling produktif dalam mengemukakan gagasan dan
penelitian, paling berpengaruh, serta paling berani dan tegas dalam menjawab
tantangan dan kritik-kritik atas behaviorisme (Koeswara, 2001 : 69).
Paradigma
yang dipakai untuk membangun teori behavioristik adalah bahwa tingkah laku
manusia itu fungsi stimulus, artinya determinan tingkah laku tidak berada di
dalam diri manusia tetapi bearada di lingkungan (Alwisol,2005 : 7). Pavlov,
Skinner, dan Watson dalam berbagai eksperimen mencoba menunjukkan betapa
besarnya pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku. Semua tingkah laku termasuk
tingkah laku yang tidak dikehendaki, menurut mereka, diperoleh melalui belajar
dari lingkungan.
Prinsip-Prinsip Teori Behaviorisme:
- Obyek psikologi adalah tingkah laku.
- Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek.
- Mementingkan pembentukan kebiasaan.
c) Humanistik
Istilah
psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh
sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah
kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat
berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud
adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik
sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
Meskipun
tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi
mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang
berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme.
Manusia, menurut eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world),
dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 2001 : 113).
Eksistensialisme
menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun
lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap
individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib
atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan
keberadaannya.Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama,
yaitu:
- Psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai
pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia.
- Psikologi humanistik menawarkan pengetahuan yang luas akan kaidah
penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia.
- Psikologi humanistik menawarkan metode yang lebih luasakan kaidah-kaidah yang lebih efektif dalam dalam pelaksanaan psikoterapi
d) Abraham Maslow
Dalam
teori kepribadian sehat menurut Maslow, ada beberapa point yang dijabarkan
tentang pendekatan Maslow terhadap kepribadian. Dia percaya bahwa menyelidiki
kesehatan psikologis, satu-satunya tipe orang yang dipelajari ialah orang yang
sangat sehat. Berikut ini dijelaskan konsep menurut Abraham Maslow kesehatan
mental yang meliputi :
Hierarki kebutuhan manusia
Kita
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang dibawa sejak lahir yang
tersusun dalam suatu tingkat dari yang paling kuat sampai yang paling lemah.
Ibarat suatu tangga, kita harus meletakkan kaki pada anak tangga pertama
sebelum berusaha mencapai anak tangga kedua, dan seterusnya, sampai kita mampu
naik pada tingkat yang paling tinggi. Dan kebutuhan-kebutuhan itu adalah:
1. Kebutuhan
Fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah
kebutuhan-kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara, tidur, seks dan
pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan itu sangat penting untuk kelangsungan
hidup. Dan juga kebutuhan ini merupakan yang terkuat dan sifatnya amat penting
dari semua kebutuhan.
2. Kebutuhan
Akan Rasa Aman. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi
kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, ketertiban, bebas dari ketakutan
dan kecemasan. Kebutuhan akan rasa aman juga merupakan kebutuhan untuk mendapatkan
perlindungan agar dapat melangsungkan hidup dengan baik.
3. Kebutuhan
Akan Memiliki Cinta dan Kasih.
Kebutuhan ini semacam layak untuk mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang
terhadap orang lain, baik seperti orang tua, kakak, adik, sahabat, ataupun
saudara dengan tujuan agar merasakan perasaan memiliki. Kita memuaskan
kebutuhan-kebutuhan kita akan cinta dengan membangun suatu hubungan akrab dan
penuh perhatian, dan dalam hubungan ini memberi dan menerima cinta adalah sama
pentingnya.
4. Kebutuhan
Akan Penghargaan. Yaitu penghargaan yang berasal dari
orang lain dan juga terhadap diri sendiri. Penghargaan yang berasal dari orang
lain (dari luar) misalnya popularitas ataupun keberhhasilan dalam masyarakat.
Ada banyak cara juga supaya orang lain bisa menghargai kita, menurut saya
apabila dengan cara yang negatif, kita bisa saja memamerkan serta gengsi kita
dengan apa yang kita miliki, seperti mengendarai mobil mewah yang kita miliki,
membeli rumah besar, dsb. Kita tidak dapat menghargai diri kita jika kita tidak
mengetahui kita apa dan siapa.
5. Aktualisasi
diri. Apabila kita telah memuaskan semua
kebutuhan diatas, maka kita didorong oleh kebutuhan yang paling tinggi, yaitu
aktualisasi diri. Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan
yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas
dan kapasitas kita. Kita harus bisa menjadi menurut potensi yang kita miliki.
Maslow menyebutkan apabila kita dapat memuaskan kebutuhan kita dari tingkat
yang rendah, kita masih merasa aman secara fisik maupun emosional, mempunyai
rasa memiliki dan juga merasa bahwa kita adalah diri yang berharga. Namun
apabila kita gagal dalam tahap aktualisasi diri ini, maka kita akan merasa
kecewa, tidak tenang dan tidak puas. Dengan begitu, kita tidak akan berada
dalam damai pada diri kita sendiri dan tidak bisa dikatakan bahwa kita sehat
secara psikologis.
Kepribadian yang sehat menurut Maslow
Seperti
yang disebutkan diatas, menurut Maslow jika tingkat kebutuhan aktualisasi diri
tidak dapat terpenuhi, maka kita tidak bisa disebut sebagai manusia yang sehat
secara psikologis. Maslow juga menyebutkan bahwa orang yang sehat adalah orang
mampu mengaktualisasikan diri mereka dengan baik dan imbang, mereka juga dapat
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu memenuhi
potensi-potensi yang mereka miliki serta mengetahui dan memahami dunia sekitar
mereka. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu tidak berjuang, tetapi
mereka berusaha, Maslow menyebut teori ini dalam “metamotivation”. Ia juga
menulis “Motif yang paling tinggi ialah tidak didorong dan tidak berjuang”, itu
berarti memang orang yang mampu mengaktualisasikan diri tidak berjuang
melainkan berusaha.
Menurut
Maslow, syarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan
kebutuhan-kebutuhan yang tadi telah disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat
kebutuhan yang ada, diantaranya yang pertama adalah kebutuhan akan fisiologis,
kebutuhan akan rasa aman, cinta kasih, serta penghargaan diri. Kebutuhan ini
harus terpenuhi sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri. Kita juga tidak
membutuhkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam waktu yang sama, akan tetapi
dapat membutuhkannya dalam waktu yang berbeda. Hanya kebutuhan yang sangat
penting yang akan dirasakan pada saat bersamaan dan dalam setiap momen
tertentu.
Sumber:
http://irapermatasari01.blogspot.com/2012/04/teori-kepribadian-sehat-abraham-maslow_23.html
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)


